Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Madrasah. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2026

Membangun Madrasah Unggul dan Berintegritas | Blog Kepala MAN 1 Jembrana

Membangun Madrasah Unggul dan Berintegritas

KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF DALAM MENGEMBANGKAN MAN 1 JEMBRANA

Drs. Saras Mawantyo, M.Pd. Kepala MAN 1 Jembrana Artikel Kepemimpinan dan Pengembangan Madrasah | 2026

Madrasah sebagai Ruang Tumbuh dan Berkembang

Mengembangkan madrasah merupakan sebuah proses kepemimpinan yang membutuhkan visi, komitmen, keberanian melakukan perubahan, serta konsistensi dalam membangun budaya mutu. Bagi saya, memimpin madrasah bukan semata-mata menjalankan rutinitas administrasi dan memastikan seluruh program terlaksana. Lebih dari itu, kepemimpinan harus mampu menghadirkan perubahan yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga madrasah, terutama peserta didik.

MAN 1 Jembrana memiliki potensi besar untuk terus berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, kompetitif, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Potensi tersebut harus dikelola melalui perencanaan yang terarah, penguatan sumber daya manusia, inovasi pembelajaran, pengembangan prestasi, serta tata kelola kelembagaan yang profesional.

Dalam pandangan saya, kemajuan madrasah tidak cukup diukur dari banyaknya program yang diselenggarakan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada perubahan kualitas layanan pendidikan, peningkatan kompetensi guru, perkembangan karakter peserta didik, pencapaian prestasi, dan tumbuhnya kepercayaan masyarakat.

Oleh karena itu, pengembangan MAN 1 Jembrana diarahkan pada satu cita-cita besar: menjadi madrasah yang bersih, berprestasi, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

1. Membangun Budaya Integritas sebagai Fondasi Pengembangan Madrasah

Saya meyakini bahwa prestasi yang hebat harus dibangun di atas tata kelola yang bersih dan berintegritas. Keunggulan madrasah tidak akan memiliki makna yang utuh apabila tidak disertai kejujuran, tanggung jawab, transparansi, dan akuntabilitas.

Atas dasar pemikiran tersebut, MAN 1 Jembrana terus memperkuat pembangunan Zona Integritas (ZI) melalui perubahan pola pikir, budaya kerja, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Salah satu upaya yang dikembangkan adalah internalisasi nilai Ber-AKSI, yaitu Berorientasi Akhlak Mulia, Kinerja Profesional, Semangat Berprestasi, dan Integritas Tinggi. Nilai-nilai ini menjadi arah perilaku kerja yang diharapkan tumbuh dalam keseharian guru dan tenaga kependidikan.

Untuk menguatkan internalisasi tersebut, kami mengembangkan program SAHABAT (Satu Hati Bangun Tim). Program ini menjadi sarana membangun kebersamaan, memperkuat komitmen, dan menumbuhkan kesadaran bahwa pembangunan Zona Integritas merupakan tanggung jawab seluruh warga madrasah.

Melalui kartu budaya kerja dan Pohon SAHABAT, setiap guru dan tenaga kependidikan diajak menyatakan komitmen sekaligus mengimplementasikan nilai Ber-AKSI dalam tugas masing-masing.

Bagi saya, Zona Integritas harus hidup dalam perilaku, bukan berhenti sebagai slogan atau kelengkapan dokumen. Setiap pelayanan yang diberikan, keputusan yang diambil, dan tanggung jawab yang dilaksanakan harus mencerminkan budaya kerja yang berintegritas.

2. Mengembangkan Keunggulan Akademik dan Prestasi melalui PRESTISIUS

Madrasah yang berkembang harus memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengenali, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi dirinya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, MAN 1 Jembrana mengembangkan program PRESTISIUS sebagai strategi penguatan prestasi peserta didik. Program ini diarahkan untuk membangun ekosistem pembinaan prestasi yang terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada capaian akademik maupun nonakademik.

Salah satu implementasinya adalah PERMATA (Program Percepatan Masuk Perguruan Tinggi Ternama). Program ini memberikan pendampingan dan penguatan kesiapan peserta didik kelas XII dalam menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), termasuk melalui kegiatan pembimbingan dan tryout.

Kami ingin memastikan bahwa peserta didik memperoleh kesempatan dan pendampingan yang optimal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Komitmen terhadap pengembangan prestasi juga terlihat dalam capaian MAN 1 Jembrana pada Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Provinsi Bali tahun 2026. MAN 1 Jembrana berhasil meraih juara pada seluruh enam mata pelajaran yang dipertandingkan dan mengantarkan enam peserta didik melaju ke tingkat nasional.

Capaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk memperkuat sistem pembinaan prestasi di madrasah. Namun, saya selalu mengingatkan bahwa kecerdasan dan prestasi akademik harus berjalan seiring dengan akhlakul karimah. Kita ingin melahirkan generasi yang cerdas dalam berpikir, santun dalam bertutur, kuat dalam karakter, dan bijak dalam bertindak.

3. Memperkuat Literasi, Bahasa, dan Karakter melalui GANTARI

Pengembangan madrasah juga membutuhkan perhatian serius terhadap kemampuan literasi dan komunikasi peserta didik. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi untuk membangun kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, memahami persoalan, dan mengambil keputusan.

Melalui program GANTARI (Gebyar Peningkatan Bahasa dan Literasi) yang menjadi bagian dari penguatan layanan literasi dan bahasa melalui LENTERA, MAN 1 Jembrana menghadirkan ruang aktualisasi potensi peserta didik dalam bidang bahasa, literasi, dan kreativitas.

Penyelenggaraan GANTARI hingga tahun kelima menunjukkan komitmen madrasah dalam menjaga kesinambungan program pengembangan literasi.

Pada penyelenggaraan GANTARI#5, tema "Stop Bullying! Bersuara dengan Kata Membangun Masa Depan Tanpa Luka" menjadi ajakan agar peserta didik menggunakan bahasa sebagai kekuatan untuk membangun lingkungan yang aman, santun, dan saling menghargai.

Saya memandang bahwa kemampuan berbahasa harus disertai tanggung jawab moral. Peserta didik perlu dibekali keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga harus memiliki empati dan kesantunan dalam berkomunikasi.

Dengan demikian, pengembangan literasi menjadi bagian penting dari pembentukan karakter generasi madrasah.

4. Mendorong Inovasi dan Transformasi Digital dalam Pengelolaan Madrasah

Perubahan zaman menuntut madrasah untuk terus beradaptasi. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan pelayanan pendidikan.

Saya mendorong guru dan tenaga kependidikan untuk terus meningkatkan kompetensi digital serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Penguatan komunitas belajar, revitalisasi MGMP, dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang inovatif. Teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat profesionalisme guru, memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, serta membantu menyederhanakan pekerjaan administratif.

Dalam aspek pelayanan, MAN 1 Jembrana juga mengembangkan PADMA sebagai aplikasi layanan bagi warga madrasah dan pemangku kepentingan. Kehadiran inovasi digital ini merupakan langkah untuk memperkuat aksesibilitas, efektivitas, dan kualitas pelayanan.

Bagi saya, transformasi digital tidak semata-mata tentang penggunaan perangkat dan aplikasi. Esensi utamanya adalah perubahan cara berpikir dan cara bekerja agar semakin efektif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.

5. Membangun Kemitraan dan Kepercayaan Masyarakat

Madrasah tidak dapat berkembang secara optimal apabila berjalan sendiri. Dukungan orang tua, masyarakat, instansi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan merupakan kekuatan penting dalam membangun ekosistem pendidikan.

Karena itu, saya terus mendorong terbentuknya hubungan kemitraan yang produktif dan saling memberikan manfaat.

Salah satu wujudnya adalah keterbukaan MAN 1 Jembrana dalam berbagi pengalaman pengelolaan madrasah, termasuk melalui kegiatan studi tiru. Kunjungan MTsN 2 Ponorogo pada Oktober 2026 menjadi salah satu kesempatan untuk bertukar gagasan dan pengalaman mengenai pengelolaan kelembagaan, khususnya pembangunan Zona Integritas.

Bagi saya, berbagi praktik baik merupakan bagian dari tanggung jawab moral lembaga pendidikan. Pengalaman yang telah dikembangkan di madrasah akan memiliki nilai lebih ketika dapat menjadi inspirasi dan memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan lainnya.

Kemitraan harus dibangun atas dasar kepercayaan, keterbukaan, dan kesamaan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

6. Membangun Kepemimpinan Kolaboratif dan Budaya Kerja Berkelanjutan

Saya menyadari bahwa kepala madrasah tidak mungkin bekerja sendiri dalam mewujudkan seluruh cita-cita pengembangan lembaga. Keberhasilan sebuah program sangat ditentukan oleh kemampuan membangun tim, membagi tanggung jawab, menggerakkan potensi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap madrasah.

Oleh sebab itu, saya menempatkan kolaborasi sebagai salah satu prinsip utama kepemimpinan di MAN 1 Jembrana.

Setiap program perlu memiliki perencanaan yang jelas, pembagian tugas yang terukur, target pencapaian, mekanisme monitoring dan evaluasi, serta tindak lanjut yang berkelanjutan.

Saya juga mendorong agar setiap guru dan tenaga kependidikan memperoleh ruang untuk mengembangkan kompetensi, menyampaikan gagasan, serta mengambil peran dalam inovasi madrasah.

Kepemimpinan yang baik bukan tentang seberapa banyak keputusan yang dapat dibuat oleh seorang kepala madrasah, melainkan seberapa besar kemampuan pemimpin dalam menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Melalui pendekatan tersebut, budaya kerja diharapkan tumbuh menjadi budaya yang profesional, terbuka terhadap perubahan, saling mendukung, dan berorientasi pada hasil.

Refleksi: Menjadikan Pengembangan Madrasah sebagai Gerakan Bersama

Berbagai program dan inovasi yang dikembangkan MAN 1 Jembrana merupakan bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan pendidikan yang semakin bermutu. Saya memahami bahwa pengembangan madrasah bukan pekerjaan yang selesai dalam satu periode kepemimpinan. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan konsistensi, evaluasi, dan keberanian untuk terus melakukan pembaruan.

Setiap capaian harus menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Setiap kekurangan harus menjadi bahan refleksi untuk melakukan perbaikan. Setiap potensi harus memperoleh ruang untuk berkembang.

Dalam konteks tersebut, Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) saya pandang sebagai momentum untuk merefleksikan efektivitas kepemimpinan, mengevaluasi ketercapaian program, serta memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar memberikan dampak bagi peningkatan mutu madrasah.

Saya ingin memastikan bahwa pengembangan MAN 1 Jembrana tidak hanya terlihat dalam dokumen perencanaan dan laporan kegiatan, tetapi juga nyata dalam kualitas pembelajaran, prestasi peserta didik, profesionalisme pendidik, budaya kerja, dan kepuasan masyarakat terhadap layanan pendidikan.

Pada akhirnya, membangun madrasah adalah membangun masa depan. Masa depan peserta didik, masa depan pendidikan Islam, dan masa depan generasi bangsa.

MAN 1 Jembrana harus terus bergerak menjadi madrasah yang bersih dan berprestasi.

Bersih dalam tata kelola, unggul dalam capaian, kuat dalam karakter, serta berintegritas dalam setiap pengabdian.

Drs. Saras Mawantyo, M.Pd. Kepala MAN 1 Jembrana
MAN 1 JEMBRANA
Blog Kepala Madrasah | Kepemimpinan, Inovasi, dan Transformasi Pendidikan
© 2026 MAN 1 Jembrana

Selasa, 28 Oktober 2025

KONTRIBUSI IKLIM KERJA, MOTIVASI KERJA DAN SUPERVISI KEPALA MADRASAH TERHADAP KINERJA GURU MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI DI KABUPATEN JEMBRANA

 

Oleh:

Saras Mawantyo

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis : (1) Kontribusi Iklim Kerja terhadap kinerja guru; (2) Kontribusi Motivasi Kerja terhadap kinerja guru; (3) Kontribusi Supervisi Kepala Madrasah terhadap kinerja guru ; (4) Kontribusi secara simultan Iklim Kerja, Motivasi Kerja Guru dan Supervisi Kepala Madrasah terhadap kinerja guru Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana. Penelitian ini termasuk penelitian ex post facto korelasional dengan responden populasi subyek mencakup semua guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Di Kabupaten Jembrana berjumlah 60 guru. Data dianalisis dengan menggunakan regresi sederhana, regresi berganda dan anĂ¡lisis korelasi parsial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Terdapat kontribusi yang signifikan dari iklim kerja dengan kinerja guru, kontribusi yang signifikan dari motivasi kerja dengan kinerja guru, kontribusi yang signifikan dari supervisi Kepala Madrasah, dan kontribusi yang signifikan secara bersama-sama dari Iklim Kerja, Motivasi Kerja dan Supervisi Kepala Madrasah dengan Kinerja Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana dengan kontribusi berturut-turut adalah  47,2%, 61,8 %, 34,7 %, 76,2 %. dan sumbangan

efektif secara berturut-turut 24,53%, 42,49 %, 9,24 %, 76,27 %. Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa iklim kerja, motivasi kerja, supervisi kepala madrasah dan secara bersama-sama ketiga variabel tersebut berkontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kinerja guru Madarasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana.

 

Kata Kunci : Iklim Kerja, Motivasi Kerja Guru, Supervisi Kepala Madrasah, Kinerja Guru.


ABSTRACT

 

Mawantyo, Saras (2012), The Contribution of Working Climate, Teachers’ Motivation and the Madrasah Headmaster’s Supervision towards Teachers’ Performances at Madrasah Tsanawiyah Negeri in Jembrana Regency. Thesis, Educational Administration, Postgraduate Program, Undiksha.

 

This thesis had been corrected and verified by:

the first supervisor: Prof. Dr. I Made Yudana, M.Pd., and

the second supervisor: Prof. Dr I Made Candiasa, M.I.Komp.

 

Key-words: working climate, teachers’ working motivation, Madrasah headmaster’s supervision, teachers’ performances.

 

The study aimed at finding out and analyzing the contribution of : (1) working climate towards teachers’ performances, (2) teachers’ working motivation towards teachers’ performances, (3) Madrasah headmaster’s supervision towards teachers’ performances, and

(4) working climate, teachers’ working motivation, Madrasah headmaster’s supervision towards teachers’ performances simultaneously at Madrasah Tsanawiyah Negeri in Jembrana Regency.

It was an ex-post facto with correlation design, involving a total number of 60 teaching staff members from Madrasah Tsanawiyah Negeri Jembrana as the population. The study made use of census study, and the data were analyzed by using simple regression, multiple regressions and partial correlation analysis.

The results of the study indicated that there was a significant contribution of working climate towards teachers’ performances; there was a significant contribution of teachers’ working motivation towards teachers’ performances; there was a significant contribution of Madrasah headmaster’s supervision towards teachers’ performances, and there was a significant simultaneous contribution of working climate, teachers’ working motivation, Madrasah headmaster’s supervision towards teachers’ performances at Madrasah Tsanawiyah Negeri in Jembrana Regency with the following contributing scores, such as 47.2%, 61.8%, 34.7%, 76.2%, and effective contributions of 24.53%, 42.49%, 9.24%, and 76.27% respectively.

Based on the above findings it could be concluded that working climate, teachers’ working motivation, Madrasah headmaster’s supervision contributed both separately as well as simultaneously towards teachers’ performances at Madrasah Tsanawiyah Negeri in Jembrana Regency. It was recommended that all parties should improve their performances by providing greater attention to the most contributed factors.


1.          PENDAHULUAN

Secara fundamental pendidikan dalam lintasan pembangunan nasional, menempati posisi sangat penting, sebagaimana terlihat dalam alinea keempat pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai pernyataan politik rakyat Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari amanat politik rakyat itu mengandung implikasi demokrasi pendidikan yang terwujud dalam komitmen nasional “ Seluruh   mayarakat     mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas".

Kebijakan Pemerintah untuk mengimplementasikan gagasan tersebut ditegaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan Undang-undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional yang telah meletakkan strategi politik pembinaan system pendidikan nasional yang menunjang terwujudnya pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia (manusia Indonesia seutuhnya). Bab II Pasal 4 Undang-undang tahun 1989 dan Bab II pasal 3 Undang-undang tahun 2003 tersebut mengatakan bahwa Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia  Indonesia  seutuhnya,  yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi, pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dalam rangka peningkatan mutu Madrasah Tsanawiyah Negeri pada dasarnya terpulang pada tanggung jawab pelaksana teknis pendidikan yang dalam hal ini para guru-guru dan Kepala Madrasah yang secara langsung dengan perannya masing-masing. Kepala Madrasah sebagai pejabat fungsional terdepan pada pendidikan di Madrasah memegang peranan yang sangat penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas  atas  Madrasah       yang dipimpinnya. Sementara itu guru sebagai pemeran proses belajar mengajar dituntut pula kemampuan untuk mencapai kinerja yang tinggi baik secara kualitas maupun kuantitas. Masalah kualitas kinerja guru sangat terkait dengan berbagai faktor baik yang menyangkut kompetensi profesional guru itu sendiri maupun faktor-faktor lain yang terdapat dalam system Madrasah sebagai tempat mereka bekerja. Beberapa faktor yang di pandang cukup dominan dalam mempengaruhi kualitas kinerja guru adalah faktor iklim kinerja, motivasi kerja guru dan supervisi kepada Madrasah.

Menurut Hamalik (1993 : 141) manajemen adalah kunci jenis organisasi yang paling kondusif untuk moral dan kinerja yang tinggi. Apabila manajemen mengoperasikan organisasi sebagai manusia, maka organisasi tersebut dipandang sebagai kelompok sosial yang berprilaku, yang dilandasi oleh kebutuhan, motivasi, sistem nilai, aspirasi manusiawi dan hubungan antar manusia yang baik, maka jelas moral organisasi tersebut akan lebih tinggi. Dengan moral organisasi seperti itu diharapkan kinerja seluruh personil menjadi lebih tinggi. Madrasah merupakan system yang terbuka oleh karena itu tidak dapat menutup diri dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Interaksi dari berbagai faktor itu kemudian membentuk entitas sosial Madrasah yang merupakan iklim kerja yang dapat berpengaruh positif dan tidak mustahil pula berpengaruh negatif terhadap kinerja personal Madrasah, misalnya guru. Iklim kerja Madrasah merupakan karakteristik- karakteristik kondisi lingkungan Madrasah yang dapat menumbuhkan motivasi kinerja guru merupakan kunci pembentukan mutu lulusan di setiap Madrasah.

Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun tentang pendidikan menengah Pasal 25 butir 3 menggariskan kewajiban kepala Madrasah berkewajiban menilai dan membina pembinaan kurikulum, guru dan tenaga pendidikan lainnya. Pendayagunaan sarana prasarana dalam lingkungan dan tanggungjawabnya. Kewajiban Kepala Madrasah membina kemampuan professional guru adalah kewajiban kepala Madrasah yang berhubungan dengan peranya dalam pelaksanaan Supervisi yang bertujuan meningkatkan kinerja guru, berkenaan dengan itu Sahertian (1992 : 85) mengemukakan lima peranan supervisi kepala Madrasah yang berkaitan langsung dengan peningkatan kinerja guru yaitu: (1) Mengikuti perkembangan masalah- masalah dan gagasan-gagasan pendidikan dan pengajaran mutakhir baik yang berkaitan dengan teori maupun yang berkaitan dengan praktek (tugas informasi dan dimensi). (2) Mengusahakan sumber- sumber profesional baik sumber manusia (narasumber) maupun sumber material (buku-buku dan alat-alat bantu pengajaran) yang mudah diperoleh guru. (3) Mengadakan latihan dan pengembangan untuk membantu guru menguasai keterampilan-keterampilan baru yang berkaitan dengan pelaksanaan pengajaran. (4) Mengadakan observasi dan evaluasi pelaksanaan proses belajar mengajar dalam upaya perbaikan pengajaran. (5) Memotivasi guru-guru untuk menerapkan ide-ide baru yang kondusif bagi perbaikan proses belajar mengajar.

Mengacu hasil Ujian Akhir sebagai tolak ukur pemantau mutu ternyata Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana belum mencapai hasil seperti yang diharapkan, semua ini terpulang pada Kepala Madrasah yang merupakan pejabat fungsional terdepan pada pendidikan Madrasah dan guru sebagai pemeran proses belajar mengajar. Melihat dari kenyataan yang ada di Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana dalam hal hubungan antara kepala Madrasah dengan dewan guru, guru dengan sejawat guru, guru dengan tata usaha, guru dengan siswa belum seperti apa yang diharapkan. Khusus kondisi fisik Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana masih belum mendukung kearah suasana kerja yang efektif. Suasana Madrasah yang kurang kondusif, rendahnya motivasi kerja guru, dan masih kurangnya supervisi Kepala Madrasah merupakan faktor dominan mempengaruhi mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana. Semua ini mengisyaratkan bahwa iklim kerja, motivasi kerja guru dan peranan supervisi Kepala Madrasah dalam meningkatkan kinerja guru mempunyai pengaruh yang berarti. Namun seberapa jauh iklim kerja, Motivasi kerja guru dan peranan sepervisi Kepala Madrasah berpengaruh terhadap kinerja guru sangat tergantung pada kualitas                     dan            cara  guru mempersepsikannya. Sebagai gambaran yang ideal iklim kerja, motivasi kerja guru dan supervisi kepala Madrasah serta kinerja guru yang diharapkan, maka menurut Arikunto (1993:288) iklim kerja didefinisikan sebagai suasana yang terjadi dan diciptakan oleh hubungan antar pribadi baik hubungan antara atasan dengan bawahan, hubungan antara sesama tenaga pendidik, hubungan guru dengan karyawan dan siswa, dan suasana yang terjadi sebagai akibat dari pengaruh sistem dan lingkungan fisik yang ada. Apabila iklim di madrasah kondusif dan lingkungan fisiknya mendukung maka akan lebih memungkinkan kinerja guru meningkat, dan sebaliknya apabila iklim di madrasah tidak kondusif serta sarana fisik tidak mendukung maka kinerja guru akan menurun. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Pidarta (1999 : 9 ) bahwa manusia yang bekerja pada suatu organisasi perlu dimotivasi dengan berbagai stimulus dan fasilitas yang dapat meningkatkan gairah kerjanya.

Martinis Yamin (2003:82) Motivasi memiliki banyak persamaan makna atau beberapa istilah seperti motivasi dalam berbagai literatur, seperti needs, drives, wants, interests, desires. Motivasi merupakan perilaku yang akan menentukan kebutuhan (needs) atau wujud perilaku mencapai tujuan. Seseorang termotivasi untuk mendapatkan sesuatu, maka ia akan berusaha memenuhi kebutuhan   (needs)   tersebut.   Needs merupakan kecenderungan dalam diri seseorang yang bersifat relatif permanen bagi orang-orang termotivasi dan ia merupakan perubahan internal dalam diri akibat dari stimulus yang didapat dari lingkungannya. Menurut Sardiman A.M. (1990:75) Motivasi juga dapat dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menciptakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha meniadakan atau mengelakkan rasa tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor- faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang.

Tujuan yang ingin dicapai antara lain (1) Untuk mengetahui besaran kontribusi iklim kerja terhadap kinerja guru pada Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana (2) Untuk mengetahui besaran kontribusi motivasi kerja terhadap kinerja guru Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana (3) Untuk mengetahui besaran kontribusi supervisi kepala madrasah terhadap kinerja guru Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana (4) Untuk mengetahui besaran kontribusi iklim kerja, motivasi kerja, dan supervisi Kepala Madrasah secara bersama-sama terhadap kinerja guru Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Jembrana. 


Artikel Selengkapnya